Pergerakan Harga Kopi Dunia 26 Desember 2025
Harga kopi global pada perdagangan 26 Desember 2025 terpantau bergerak mendatar. Baik kopi Arabika maupun Robusta tidak mencatatkan perubahan harga di dua bursa utama dunia, yakni ICE Futures US dan ICE Europe London.
Kondisi ini terjadi di tengah sentimen pasar yang masih mencermati perkembangan cuaca ekstrem di negara produsen utama kopi, terutama Indonesia dan Brasil. Meski sebelumnya harga sempat menguat, pasar kini cenderung menahan diri sambil menunggu kepastian arah pasokan global.
Stagnannya harga menunjukkan keseimbangan sementara antara faktor gangguan pasokan dan ekspektasi produksi yang lebih baik pada awal tahun depan.
Harga Kopi Robusta di Bursa London Tetap Stabil
Di bursa London, harga kopi Robusta tercatat tidak berubah pada sesi perdagangan hari ini. Kontrak pengiriman Januari 2026 diperdagangkan di level USD 4.012 per ton, sama seperti penutupan sebelumnya.
Sementara itu, kontrak Robusta Maret 2026 juga bergerak datar di USD 3.858 per ton. Stabilitas ini terjadi setelah harga Robusta mengalami lonjakan lebih dari 5 persen sejak awal pekan, yang dipicu oleh kekhawatiran gangguan ekspor dari Asia Tenggara.
Indonesia sebagai salah satu produsen Robusta terbesar dunia masih menghadapi tantangan cuaca ekstrem, terutama banjir di sejumlah wilayah sentra produksi. Meski demikian, pasar menilai dampak langsung terhadap Robusta relatif lebih terbatas dibandingkan Arabika.
Harga Arabika di New York Bertahan
Sementara itu, di bursa New York, harga kopi Arabika juga belum menunjukkan perubahan. Kontrak pengiriman Desember 2025 tetap bertahan di 345,15 sen per pon, sedangkan kontrak Maret 2026 berada di 330,85 sen per pon.
Stabilnya harga Arabika mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar. Di satu sisi, cuaca ekstrem menimbulkan risiko terhadap produksi. Namun di sisi lain, ada optimisme bahwa produksi di Amerika Selatan masih dapat menopang pasokan global pada periode mendatang.
Pergerakan mendatar ini menandakan pasar masih mencari katalis baru yang cukup kuat untuk mendorong harga bergerak lebih agresif.
Dampak Cuaca Ekstrem di Indonesia terhadap Pasar Kopi
Indonesia masih menjadi sorotan utama pasar kopi dunia dalam beberapa pekan terakhir. Curah hujan tinggi dan banjir dilaporkan telah melanda lebih dari sepertiga wilayah penanaman kopi Arabika di Sumatera Utara.
Banjir tersebut tidak hanya berdampak pada lahan pertanian, tetapi juga mengganggu logistik dan distribusi ekspor. Kerusakan infrastruktur, keterlambatan pengiriman, serta potensi penurunan kualitas panen menjadi faktor yang membuat pasar waspada.
Namun, laporan awal menyebutkan bahwa wilayah penghasil Robusta relatif kurang terdampak dibandingkan sentra Arabika. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa harga Robusta tetap stabil setelah reli tajam di awal pekan.
Situasi Cuaca Brasil Masih Tidak Menentu
Selain Indonesia, Brasil sebagai produsen kopi terbesar dunia juga menjadi faktor penentu arah pasar. Pola cuaca di negara tersebut masih tergolong tidak menentu, dengan distribusi curah hujan yang belum merata.
Data dari lembaga meteorologi Brasil, Climatempo, menunjukkan bahwa curah hujan di negara bagian Minas Gerais—wilayah penghasil kopi Arabika utama—pekan lalu hanya mencapai sekitar 76 persen dari rata-rata historis.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran terkait keberlanjutan siklus produksi, meskipun sejauh ini belum ada indikasi kerusakan besar pada tanaman kopi.
Prospek Produksi dan Pasokan Awal 2026
Meski tantangan cuaca masih membayangi, laporan terbaru dari Itaú BBA memberikan pandangan yang relatif lebih optimistis. Bank tersebut menilai proses pembungaan tanaman kopi di Brasil secara umum berjalan dengan baik.
Jika perkiraan curah hujan yang cukup pada kuartal pertama 2026 benar-benar terealisasi, produksi kopi Arabika Brasil berpotensi meningkat. Hal ini dapat mendorong terbentuknya surplus pasokan global, terutama jika permintaan tidak tumbuh signifikan.
Namun demikian, untuk saat ini, Itaú BBA menilai bahwa pasokan dan ekspor kopi Brasil masih terbatas, sehingga belum cukup kuat untuk menekan harga secara signifikan dalam jangka pendek.
Keseimbangan Pasar Menjadi Kunci Pergerakan Harga
Pergerakan harga kopi yang mendatar mencerminkan kondisi pasar yang berada dalam fase penyeimbangan. Risiko gangguan pasokan akibat cuaca ekstrem masih ada, tetapi diimbangi oleh ekspektasi produksi yang lebih baik di masa mendatang.
Pelaku pasar global cenderung menahan posisi sambil memantau perkembangan cuaca, data ekspor, serta laporan produksi dari negara-negara utama. Dalam situasi seperti ini, volatilitas bisa kembali meningkat jika muncul kejutan dari sisi cuaca atau kebijakan perdagangan.
Untuk sementara, harga kopi dunia tampaknya akan bergerak dalam rentang terbatas hingga ada kepastian baru yang mampu mengubah keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Baca Juga : Polsek Bengalon Laksanakan Pengecekan Tahanan Pagi Hari
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : pestanada

