Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menggelar dialog hangat dan interaktif bersama mahasiswa dalam sebuah pertemuan yang membahas arah diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global. Pertemuan ini menjadi ruang diskusi penting, tidak hanya untuk memperkenalkan peran Kementerian Luar Negeri, tetapi juga untuk memperkuat pemahaman generasi muda mengenai kompas politik luar negeri Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Menlu Sugiono berdiskusi mengenai sejarah kantor Kementerian Luar Negeri, dinamika geopolitik terkini, peran diplomasi dalam memperjuangkan kepentingan nasional, hingga arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. Dialog berlangsung dalam suasana terbuka, di mana mahasiswa diberikan kesempatan bertanya langsung dan menyampaikan pandangan mereka.
Menlu Sugiono menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia selalu berlandaskan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Ia menegaskan bahwa seluruh upaya diplomasi Indonesia pada dasarnya merujuk pada kepentingan nasional yang ingin dicapai.
“Kita punya tujuan nasional yang ingin kita capai. Itu yang menjadi kompas politik luar negeri kita,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima media.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa diplomasi bukan sekadar hubungan antarnegara di atas kertas, melainkan instrumen strategis untuk memastikan Indonesia dapat mencapai tujuan nasionalnya, mulai dari menjaga kedaulatan, memperkuat kesejahteraan rakyat, hingga berkontribusi pada perdamaian dunia.
Dalam konteks geopolitik global yang semakin kompleks, Sugiono menilai diplomasi menjadi semakin penting. Persaingan kekuatan besar, konflik regional, hingga isu ekonomi dan perubahan iklim menuntut negara-negara, termasuk Indonesia, untuk memiliki arah politik luar negeri yang jelas dan konsisten.
Menlu Sugiono juga menekankan bahwa prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif bukan berarti Indonesia bersikap netral tanpa pendirian. Menurutnya, bebas aktif justru menegaskan bahwa Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan manapun, namun tetap memiliki sikap tegas dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
Indonesia, kata Sugiono, akan selalu berpegang pada prinsip bahwa kebijakan luar negeri harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di dalam negeri. Diplomasi harus berdampak langsung, baik melalui kerja sama ekonomi, perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, maupun peran Indonesia dalam forum internasional.
Dalam kesempatan tersebut, Menlu Sugiono juga mendorong mahasiswa, khususnya dari program studi Hubungan Internasional, untuk mulai melatih cara berpikir seperti diplomat. Ia menyebut bahwa diplomasi tidak hanya soal negosiasi formal, tetapi juga kemampuan memahami perspektif negara lain dan mencari titik temu dalam perbedaan kepentingan.
Salah satu cara yang disarankan Sugiono adalah memperbanyak interaksi lintas negara, termasuk berdiskusi dengan mahasiswa dari negara lain. Menurutnya, pengalaman tersebut dapat membantu generasi muda memahami bahwa setiap negara memiliki kepentingan nasional masing-masing yang membentuk arah kebijakan luar negeri mereka.
Ia menilai bahwa mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan harus memiliki wawasan global yang luas, namun tetap berpijak pada kepentingan Indonesia. Dengan cara itu, generasi muda dapat menjadi bagian dari diplomasi yang lebih adaptif dan relevan menghadapi tantangan dunia.
Dialog tersebut berlangsung hangat dan penuh antusiasme. Mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan seputar diplomasi Indonesia, peran Indonesia di forum internasional, hingga pengalaman Menlu Sugiono dalam berbagai agenda global sejak menjabat sebagai Menteri Luar Negeri pada Oktober 2024.
Para peserta juga menyampaikan apresiasi atas kesempatan berdialog langsung dengan Menlu Sugiono dan jajaran Kementerian Luar Negeri. Bagi mahasiswa, pertemuan semacam ini menjadi pengalaman berharga karena memberikan gambaran nyata tentang bagaimana diplomasi dijalankan, bukan hanya sebagai teori di ruang kelas, tetapi sebagai praktik strategis dalam menjaga posisi Indonesia di dunia.
Selain sesi diskusi, para mahasiswa juga berkesempatan berkeliling Gedung Pancasila dan sejumlah lokasi bersejarah lain di kompleks Kementerian Luar Negeri di Jakarta. Kegiatan ini menambah dimensi edukatif karena mahasiswa dapat melihat langsung ruang-ruang yang menjadi saksi perjalanan diplomasi Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.
Pertemuan Menlu Sugiono dengan mahasiswa ini mencerminkan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam memahami arah kebijakan luar negeri. Diplomasi Indonesia ke depan membutuhkan pemikiran segar, wawasan global, serta komitmen kuat terhadap kepentingan nasional.
Dengan menjadikan tujuan nasional sebagai kompas politik luar negeri, Indonesia diharapkan dapat terus memainkan peran strategis di tingkat internasional sekaligus memastikan manfaat nyata bagi rakyat. Dialog seperti ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun jembatan antara diplomasi negara dan generasi penerus bangsa.
Baca juga : UN Women Indonesia Perkuat Aksi Iklim Responsif Gender Anak Muda
Cek Juga Artikel Dari Platform : museros

