Puluhan ‘Pak Ogah’ di Cengkareng Kocar-kacir Dirazia Petugas
Puluhan Pak Ogah yang biasa beroperasi di sepanjang Outer Ring Road Cengkareng, Jakarta Barat, kocar-kacir saat dilakukan razia skala besar oleh tim gabungan. Operasi penertiban ini menyasar praktik pengaturan lalu lintas ilegal yang dinilai meresahkan masyarakat dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Razia berlangsung saat arus lalu lintas cukup padat. Begitu petugas tiba di lokasi, sebagian Pak Ogah langsung berlarian meninggalkan titik-titik tempat mereka biasa mangkal. Ada pula yang mencoba bersembunyi di balik kendaraan atau menyelinap ke gang-gang kecil di sekitar jalan utama.
Operasi Gabungan Libatkan Banyak Unsur
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kecamatan Cengkareng, Sukarlan, mengatakan operasi tersebut merupakan kegiatan gabungan lintas instansi.
“Kita Satuan Kecamatan Cengkareng melakukan operasi skala besar dengan Perhubungan, TNI, Polisi, dan Dinas Sosial,” ujar Sukarlan, dikutip dari tayangan Metro Siang, Metro TV, Senin.
Menurutnya, kolaborasi lintas instansi diperlukan agar penertiban berjalan efektif, aman, dan sesuai prosedur, mengingat lokasi operasi berada di jalur padat kendaraan dan rawan konflik.
Sebagian Melawan, Sebagian Pasrah
Dalam razia tersebut, petugas mendapati beragam reaksi dari para Pak Ogah. Sebagian terlihat pasrah saat diamankan dan mengikuti petugas tanpa perlawanan. Namun, tidak sedikit pula yang ketakutan dan berusaha kabur ketika mengetahui akan ditertibkan.
Bahkan, salah satu Pak Ogah sempat berteriak histeris dan menolak saat hendak dibawa petugas ke dalam mobil operasional. Situasi sempat memanas ketika beberapa tukang parkir liar lainnya mencoba melawan dan memprovokasi rekan-rekannya.
Petugas gabungan dengan sigap mengamankan situasi agar tidak mengganggu arus lalu lintas dan keselamatan pengguna jalan.
Berawal dari Laporan Masyarakat
Sukarlan menjelaskan bahwa operasi penertiban ini digelar sebagai respons atas banyaknya laporan dari masyarakat dan pengguna jalan. Keberadaan Pak Ogah di sejumlah titik Outer Ring Road Cengkareng dinilai semakin meresahkan, terutama saat terjadi kemacetan.
“Mereka sering muncul ketika macet dan memaksa pengendara memberi uang. Ini jelas mengganggu ketertiban dan membahayakan,” ujarnya.
Selain berpotensi memicu kecelakaan, praktik tersebut juga kerap memicu konflik antara pengendara dan Pak Ogah, terutama ketika permintaan uang ditolak.
Ancaman Keselamatan Lalu Lintas
Outer Ring Road Cengkareng merupakan salah satu jalur strategis yang menghubungkan berbagai kawasan di Jakarta Barat. Volume kendaraan yang tinggi, ditambah keberadaan Pak Ogah yang mengatur lalu lintas tanpa kewenangan, dinilai meningkatkan risiko kecelakaan.
Petugas mencatat, beberapa Pak Ogah sering berdiri di tengah jalan untuk menghentikan atau mengarahkan kendaraan, tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai. Kondisi ini sangat berbahaya, baik bagi Pak Ogah sendiri maupun pengguna jalan lainnya.
28 Orang Diamankan dan Didata
Setelah dilakukan penertiban, petugas gabungan mengamankan 28 Pak Ogah dari berbagai titik di sepanjang jalan tersebut. Mereka kemudian dibawa ke Polsek Cengkareng untuk dilakukan pendataan awal.
Pendataan meliputi identitas diri, asal daerah, serta latar belakang sosial ekonomi. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penanganan lanjutan dapat dilakukan secara tepat dan terarah.
Dibawa ke Panti Sosial untuk Pembinaan
Usai pendataan, seluruh Pak Ogah yang diamankan selanjutnya diserahkan kepada Panti Sosial Kedoya di bawah koordinasi Dinas Sosial.
Di panti sosial tersebut, mereka akan mengikuti program pembinaan, mulai dari konseling sosial, pembinaan mental, hingga pelatihan keterampilan. Tujuannya agar mereka memiliki alternatif mata pencaharian yang lebih layak dan tidak kembali ke jalan.
Penertiban Akan Dilakukan Berkala
Satpol PP Kecamatan Cengkareng menegaskan bahwa operasi serupa akan terus dilakukan secara berkala. Hal ini sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga ketertiban umum dan keselamatan lalu lintas.
“Kami tidak ingin setelah razia, mereka kembali lagi. Karena itu operasi akan dilakukan berkelanjutan,” kata Sukarlan.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk berperan aktif melaporkan praktik-praktik yang mengganggu ketertiban umum agar dapat segera ditindaklanjuti.
Pendekatan Humanis Tetap Dikedepankan
Meski dilakukan secara tegas, petugas menegaskan bahwa penertiban ini tetap mengedepankan pendekatan humanis. Para Pak Ogah tidak langsung dikenakan sanksi pidana, melainkan diarahkan ke pembinaan sosial.
Pemerintah berharap, melalui pendekatan ini, akar persoalan sosial yang mendorong mereka bekerja di jalan dapat diatasi secara lebih berkelanjutan.
Penutup
Razia Pak Ogah di Outer Ring Road Cengkareng menjadi bukti keseriusan aparat dalam menjaga ketertiban dan keselamatan lalu lintas di Jakarta Barat. Dengan mengamankan 28 orang untuk dibina di panti sosial, pemerintah daerah berupaya menyeimbangkan penegakan aturan dengan solusi sosial.
Ke depan, sinergi antara aparat, dinas terkait, dan partisipasi masyarakat diharapkan mampu menciptakan lingkungan jalan yang lebih aman, tertib, dan manusiawi bagi semua pihak.
Baca Juga : BNPB: 57 Cisarua Landslide Victims Identified
Cek Juga Artikel Dari Platform : petanimal

