koronovirus.site Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh tidak sepenuhnya dibangun untuk mencari keuntungan finansial. Ia menilai proyek ini memiliki misi yang lebih besar, yaitu mempercepat pembangunan wilayah dan menggerakkan ekonomi regional di sekitar jalur kereta cepat.
Pernyataan tersebut selaras dengan penjelasan Presiden Joko Widodo yang sebelumnya menegaskan bahwa pembangunan kereta cepat bukan semata-mata soal profit, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang Indonesia.
Fokus Pembangunan Wilayah, Bukan Laba
Menurut Purbaya, proyek Whoosh memang membawa beban keuangan yang besar bagi BUMN pelaksana, terutama PT Kereta Api Indonesia (Persero). Namun, jika dilihat dari sisi manfaat jangka panjang, proyek ini justru membuka peluang ekonomi baru di sepanjang koridor Jakarta hingga Bandung.
“Sebetulnya ada benarnya juga, karena Whoosh ini memiliki misi pembangunan wilayah. Jadi tidak hanya menghitung untung-rugi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan infrastruktur seperti kereta cepat berdampak langsung pada pertumbuhan kawasan baru. Misalnya, di daerah sekitar Tegalluar dan Padalarang, kini mulai tumbuh kawasan komersial, properti, serta pusat kegiatan baru yang menandakan perputaran ekonomi masyarakat meningkat.
Selain itu, pemerintah melihat Whoosh sebagai pemicu integrasi transportasi modern yang menghubungkan moda darat, udara, dan kereta regional. “Ini bukan proyek jangka pendek. Efeknya baru akan terasa setelah beberapa tahun beroperasi,” tambah Purbaya.
Tantangan Keuangan dan Utang Proyek
Meskipun memiliki manfaat strategis, proyek ini tidak lepas dari sorotan publik karena pembiayaannya yang cukup besar. Sebagian pendanaan berasal dari pinjaman luar negeri, khususnya dari China Development Bank (CDB).
Beban bunga dan kewajiban pembayaran utang membuat proyek ini sering disebut sebagai “bom waktu” bagi neraca keuangan KAI. Akibatnya, pemerintah bersama BUMN kini melakukan restrukturisasi utang agar beban pembayaran dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan nasional.
Purbaya menekankan bahwa langkah restrukturisasi tidak berarti proyek gagal. Menurutnya, proyek infrastruktur skala besar di banyak negara juga membutuhkan waktu untuk mencapai titik impas. “Kita tidak bisa menilai dari laporan rugi-laba tahunan saja. Ini investasi jangka panjang,” katanya.
Manfaat Ekonomi yang Mulai Terlihat
Seiring berjalannya waktu, proyek Whoosh sudah mulai menunjukkan dampak positif bagi ekonomi lokal. Beberapa sektor seperti pariwisata, transportasi regional, dan industri properti mengalami peningkatan aktivitas.
Selain itu, jalur kereta cepat memudahkan mobilitas masyarakat antara Jakarta dan Bandung. Waktu tempuh yang dulunya memakan waktu tiga jam kini dapat dipangkas menjadi kurang dari satu jam. Hal ini membuat arus wisatawan dan bisnis menjadi lebih lancar.
“Efek ekonomi tidak hanya dirasakan di dua kota besar, tapi juga di wilayah-wilayah sekitar jalur kereta,” ujar Purbaya.
Sebagai contoh, kawasan Karawang dan Purwakarta kini menjadi magnet baru bagi investasi industri dan logistik. Sementara itu, Bandung diproyeksikan menjadi pusat wisata modern dengan konektivitas transportasi yang jauh lebih baik.
Pemerintah Tetap Evaluasi Efisiensi Proyek
Meski tidak berorientasi pada laba, pemerintah tetap mengawasi agar proyek Whoosh dijalankan secara efisien dan akuntabel. Kementerian Keuangan bekerja sama dengan Kementerian BUMN dan Badan Pengawasan Keuangan untuk memastikan penggunaan dana proyek tetap tepat sasaran.
“Pemerintah tidak ingin proyek ini membebani APBN terlalu berat. Karena itu, evaluasi terus dilakukan, terutama dalam hal pembiayaan dan pengelolaan operasional,” jelas Purbaya.
Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan pendapatan non-tiket (non-fare revenue). Strategi ini dilakukan melalui kerja sama komersial di stasiun-stasiun besar seperti Halim dan Tegalluar, yang kini dikembangkan sebagai pusat bisnis dan gaya hidup.
Dengan demikian, meskipun tarif penumpang disesuaikan agar tetap terjangkau, operator masih bisa memperoleh pemasukan tambahan dari sektor lain seperti ritel, parkir, dan periklanan.
Menjawab Kritik dan Persepsi Publik
Kritik terhadap proyek Whoosh sebagian besar datang dari pengamat ekonomi yang menilai bahwa investasi besar ini belum memberikan hasil signifikan terhadap laba perusahaan. Namun, menurut Purbaya, masyarakat perlu memahami bahwa proyek ini lebih bersifat strategis ketimbang komersial.
“Kalau hanya mengejar untung, mungkin proyek seperti ini tidak akan pernah dibangun. Tapi kalau tujuannya untuk pertumbuhan wilayah dan integrasi ekonomi, ini langkah yang tepat,” tegasnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa banyak negara maju seperti Jepang, China, dan Korea Selatan juga mengembangkan jaringan kereta cepat dengan pola investasi serupa. Dalam jangka panjang, pembangunan ini terbukti meningkatkan produktivitas wilayah dan memperkuat daya saing ekonomi nasional.
Whoosh dan Masa Depan Transportasi Indonesia
Whoosh bukan sekadar proyek transportasi, tetapi simbol transformasi infrastruktur nasional. Pemerintah menilai proyek ini menjadi pintu gerbang menuju sistem transportasi modern yang ramah lingkungan dan efisien.
Menurut Purbaya, kehadiran Whoosh mendorong lahirnya proyek-proyek baru yang mengedepankan teknologi tinggi, seperti rencana kereta cepat Jakarta–Surabaya dan sistem transportasi terintegrasi antarkota.
Selain itu, proyek ini juga menjadi sarana pembelajaran penting bagi sumber daya manusia Indonesia. Banyak insinyur dan tenaga teknis lokal kini memiliki pengalaman langsung dalam pembangunan infrastruktur berskala internasional.
“Jadi manfaatnya bukan hanya ekonomi, tapi juga transfer teknologi dan peningkatan kompetensi SDM kita,” pungkas Purbaya.
Kesimpulan: Proyek Strategis, Bukan Komersial
Dari berbagai pernyataan tersebut, terlihat bahwa proyek Kereta Cepat Whoosh memang tidak semata-mata berorientasi pada laba. Pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari rencana besar pembangunan ekonomi wilayah dan modernisasi sistem transportasi nasional.
Dengan pendekatan tersebut, proyek ini diharapkan membawa efek berantai bagi pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja baru, dan memperkuat daya saing Indonesia di masa depan.
Meskipun tantangan finansial masih ada, pemerintah berkomitmen menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi, keberlanjutan keuangan, dan efisiensi operasional. Pada akhirnya, Whoosh menjadi simbol bahwa pembangunan besar tidak selalu harus diukur dari keuntungan, melainkan dari nilai yang diberikan kepada masyarakat dan negara.

Cek Juga Artikel Dari Platform dailyinfo.blog
