UN Women Indonesia bersama Green Welfare Indonesia memperkuat upaya aksi iklim yang lebih inklusif dengan meluncurkan toolkit berjudul “Aksi Iklim Orang Muda yang Responsif Gender di Indonesia: Panduan Praktis Implementasi Proyek Komunitas yang Inklusif.” Toolkit ini ditujukan untuk mendukung inisiatif aksi iklim berbasis kepemudaan yang lebih adil, partisipatif, dan sensitif terhadap kebutuhan perempuan serta anak perempuan.
Peluncuran toolkit ini menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, sekaligus memastikan bahwa kebijakan dan aksi iklim tidak meninggalkan kelompok rentan dalam masyarakat.
Dalam siaran pers yang diterima Metrotvnews.com pada Selasa, 10 Februari 2026, UN Women menegaskan bahwa panduan ini disusun untuk membantu orang muda merancang proyek aksi iklim yang mempertimbangkan dinamika gender, norma sosial, serta akses terhadap sumber daya di tingkat lokal.
Toolkit Dikembangkan Kolektif oleh Orang Muda
Salah satu kekuatan utama dari toolkit ini adalah proses penyusunannya yang melibatkan orang muda secara langsung. Toolkit dikembangkan secara kolektif dan diperkaya dengan praktik baik serta masukan dari berbagai organisasi yang bergerak dalam isu lingkungan hidup dan kesetaraan gender.
Proses penyusunannya juga melibatkan konsultasi terbuka dengan kelompok-kelompok orang muda melalui mekanisme partisipasi yang inklusif. Dengan demikian, panduan ini bukan hanya dokumen teoritis, tetapi lahir dari pengalaman nyata serta kebutuhan komunitas di lapangan.
Toolkit ini diharapkan menjadi rujukan praktis bagi generasi muda yang ingin terlibat dalam aksi iklim, sekaligus memastikan perspektif perempuan muda menjadi bagian penting dalam solusi perubahan iklim.
Panduan Langkah demi Langkah Proyek Aksi Iklim Inklusif
Toolkit ini menyajikan panduan lengkap mulai dari tahap perencanaan hingga evaluasi proyek aksi iklim. Panduan ini mencakup:
- Pemahaman konteks lokal dan dinamika gender
- Perencanaan proyek berbasis kebutuhan komunitas
- Pelaksanaan aksi iklim yang inklusif
- Pemantauan dan evaluasi dampak proyek
- Pembelajaran dan strategi perluasan dampak
Selain itu, toolkit juga menyediakan alat analisis gender dan iklim, pemetaan risiko, analisis pemangku kepentingan, serta refleksi proyek.
Dengan pendekatan ini, aksi iklim tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial dan kesetaraan akses.
Toolkit ini juga memuat contoh praktik baik aksi iklim orang muda di Indonesia yang dapat menjadi inspirasi bagi komunitas lain.
Indonesia Negara dengan Risiko Bencana Tinggi
Peluncuran toolkit ini dilatarbelakangi tingginya risiko bencana di Indonesia. Berdasarkan World Risk Index 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia.
Kondisi geografis Indonesia yang rawan gempa, banjir, longsor, dan bencana iklim lainnya membuat masyarakat semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Namun, dampak bencana tidak dirasakan secara merata oleh semua kelompok. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa perempuan memiliki risiko hingga 14 kali lebih tinggi menjadi korban bencana dibandingkan laki-laki.
Fakta ini menegaskan bahwa krisis iklim bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga persoalan ketimpangan dan ketidaksetaraan.
Pemerintah Dorong Integrasi Perspektif Gender
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, menyebut peluncuran toolkit ini hadir pada momentum penting ketika Indonesia memperkuat komitmen iklim nasional dan global.
Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong integrasi perspektif gender dalam kebijakan pembangunan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya, kebijakan iklim yang tidak mempertimbangkan dampak terhadap perempuan dan anak perempuan berpotensi memperlebar kesenjangan sosial.
Karena itu, pendekatan responsif gender menjadi elemen penting dalam strategi pembangunan berkelanjutan Indonesia.
Diskusi Panel dan Lokakarya Kepemudaan
Peluncuran toolkit ini tidak hanya berhenti pada penerbitan dokumen, tetapi juga dilanjutkan dengan diskusi panel bertajuk “Youth-Led Gender-Responsive Climate Action and National Targets: Where Do They Meet?”
Diskusi ini menghadirkan perwakilan orang muda penyusun toolkit, pemerintah, serta organisasi non-profit. Forum tersebut membahas bagaimana aksi iklim berbasis kepemudaan dapat berkontribusi terhadap pencapaian target iklim nasional.
Selain itu, lokakarya yang melibatkan 31 orang muda dari berbagai daerah di Indonesia juga digelar untuk mempraktikkan pembelajaran dalam toolkit.
Lokakarya tersebut mencakup:
- Analisis gender dasar
- Perancangan proyek iklim inklusif
- Strategi perluasan dampak
- Penguatan jejaring lintas daerah
Kegiatan ini menunjukkan bahwa toolkit bukan hanya panduan, tetapi juga alat pembelajaran aktif bagi generasi muda.
Orang Muda di Garis Depan Krisis Iklim
Head of Programmes UN Women Indonesia, Dwi Yuliawati, menegaskan bahwa orang muda merupakan kelompok yang paling merasakan dampak kebijakan iklim saat ini.
Menurutnya, toolkit ini bertujuan memastikan perspektif perempuan muda tercermin dalam kebijakan dan praktik nyata di tingkat komunitas.
Orang muda tidak hanya menjadi penerima dampak perubahan iklim, tetapi juga aktor utama dalam menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan.
Gender Responsif Harus Jadi Standar Proyek Komunitas
Pendiri Green Welfare Indonesia, Nala Amirah, menekankan bahwa pendekatan responsif gender seharusnya menjadi standar dasar dalam proyek komunitas.
Ia menilai tantangan ke depan adalah memastikan partisipasi orang muda dan perempuan tidak hanya menjadi simbol, tetapi menghasilkan dampak berkelanjutan.
Menurutnya, aksi iklim harus dibangun dengan prinsip inklusi, sehingga perempuan dan kelompok rentan memiliki ruang setara dalam pengambilan keputusan.
Bagian dari Program EmPower Phase II
Toolkit ini dikembangkan sebagai bagian dari program EmPower: Women for Climate-Resilient Societies (Phase II) yang diimplementasikan oleh UN Women bersama United Nations Environment Programme (UNEP).
Program ini berfokus pada:
- Penguatan aksi iklim responsif gender
- Peningkatan peran perempuan dalam pengambilan keputusan lingkungan
- Pengembangan mata pencaharian tangguh terhadap perubahan iklim
Dengan program ini, UN Women mendorong masyarakat yang lebih siap menghadapi krisis iklim sekaligus memperkuat kesetaraan gender.
Penutup
Peluncuran toolkit aksi iklim responsif gender oleh UN Women Indonesia dan Green Welfare Indonesia menjadi langkah strategis dalam membangun aksi iklim yang lebih adil dan inklusif.
Dengan melibatkan orang muda, terutama perempuan muda, toolkit ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas komunitas dalam menghadapi perubahan iklim, sekaligus memastikan bahwa solusi iklim tidak meninggalkan siapa pun.
Di tengah risiko bencana yang tinggi dan ketimpangan dampak terhadap perempuan, pendekatan responsif gender menjadi kunci penting dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Baca juga : 1.155 Pelanggar Terjaring Operasi Keselamatan Progo di Bantul
Cek Juga Artikel Dari Platform :museros.

