koronovirus.site Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan pentingnya peran pegiat internet komunitas dalam meningkatkan literasi pemanfaatan teknologi, khususnya pada situasi darurat. Menurutnya, di tengah bencana atau gangguan infrastruktur, kemampuan masyarakat untuk tetap terkoneksi menjadi faktor krusial yang dapat menentukan keselamatan, kecepatan pemulihan, serta efektivitas koordinasi bantuan.
Ajakan tersebut disampaikan di hadapan peserta School of Community Networks Indonesia, sebuah forum yang mempertemukan penggerak jaringan komunitas dari berbagai daerah. Dalam kesempatan itu, Wamen Nezar menekankan bahwa internet saat ini telah menjadi kebutuhan dasar, setara dengan air, makanan, dan listrik. Keberadaannya sering kali baru disadari ketika akses terputus dan masyarakat berada dalam kondisi kritis.
Internet sebagai Kebutuhan Dasar di Masa Krisis
Dalam pandangan Wamen Nezar, konektivitas digital bukan lagi fasilitas pelengkap. Internet telah bertransformasi menjadi sarana utama untuk memperoleh informasi, berkomunikasi dengan keluarga, mengakses layanan darurat, hingga mengoordinasikan bantuan kemanusiaan. Ketika bencana melanda dan jaringan terputus, dampaknya tidak hanya pada komunikasi, tetapi juga pada keseluruhan ekosistem sosial dan ekonomi di wilayah terdampak.
Ia mencontohkan kondisi pascabencana banjir di sejumlah wilayah Sumatra yang menunjukkan betapa vitalnya peran telekomunikasi. Ketika jaringan listrik dan menara BTS rusak, masyarakat mengalami kesulitan menghubungi pihak luar, sementara proses perbaikan infrastruktur terhambat oleh akses yang terputus. Situasi ini memperlihatkan bahwa ketahanan digital harus dipersiapkan sebelum bencana terjadi, bukan setelahnya.
Peran Strategis Internet Komunitas
Wamen Nezar menilai pegiat internet komunitas memiliki posisi strategis karena dekat dengan masyarakat dan memahami kondisi lokal. Jaringan komunitas dapat menjadi solusi alternatif ketika infrastruktur konvensional lumpuh. Melalui edukasi yang tepat, masyarakat dapat dikenalkan pada berbagai teknologi cadangan yang memungkinkan konektivitas tetap terjaga.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah pemanfaatan teknologi satelit seperti Starlink. Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi apa pun tetap membutuhkan sumber energi. Oleh karena itu, kombinasi dengan energi terbarukan seperti panel surya menjadi solusi yang relevan agar konektivitas tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan listrik konvensional.
Edukasi sebagai Kunci Ketangguhan Digital
Menurut Wamen Nezar, edukasi kepada masyarakat harus mencakup pemahaman praktis, bukan sekadar konsep. Warga perlu mengetahui langkah-langkah sederhana untuk tetap terhubung saat darurat, seperti penggunaan perangkat komunikasi alternatif, pengelolaan daya baterai, hingga pemanfaatan jaringan komunitas lokal. Literasi ini penting agar masyarakat tidak sepenuhnya pasif menunggu bantuan, tetapi mampu berinisiatif menjaga komunikasi dasar.
Ia juga menekankan bahwa edukasi teknologi harus inklusif. Kelompok rentan seperti lansia, perempuan, anak-anak, dan penyandang disabilitas perlu mendapatkan perhatian khusus. Tanpa pendekatan yang ramah dan mudah dipahami, teknologi justru dapat menciptakan kesenjangan baru di tengah masyarakat.
Kolaborasi Multi-Pihak dalam Pemulihan
Wamen Nezar menegaskan bahwa pemulihan jaringan telekomunikasi pascabencana tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah atau operator besar. Partisipasi komunitas, organisasi masyarakat sipil, akademisi, dan sektor swasta menjadi elemen penting dalam membangun ketangguhan digital nasional. Dalam kondisi darurat, kolaborasi lintas sektor memungkinkan distribusi sumber daya dan pengetahuan berjalan lebih cepat.
Ia menyoroti pengalaman di wilayah terdampak banjir yang menunjukkan pentingnya kerja sama semua pihak. Pendangkalan sungai, jembatan putus, dan akses jalan terhambat membuat perbaikan infrastruktur menjadi lebih kompleks. Dalam situasi seperti ini, jaringan komunitas yang adaptif dapat menjadi penghubung awal sebelum infrastruktur utama pulih sepenuhnya.
Transformasi Digital yang Berpihak pada Manusia
Lebih jauh, Wamen Nezar menekankan bahwa transformasi digital harus selalu berpihak pada manusia. Keberhasilan digitalisasi tidak diukur dari seberapa luas jaringan terbangun, tetapi dari sejauh mana masyarakat merasa aman dan mendapatkan manfaat nyata. Teknologi harus menjadi alat pemberdayaan, bukan sumber kerentanan baru.
Pemerintah, kata dia, membuka pintu kolaborasi seluas-luasnya dengan pegiat komunitas untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur digital yang tangguh. Prinsip no one left behind menjadi landasan agar setiap warga, di mana pun berada, memiliki kesempatan yang sama untuk terhubung dan berpartisipasi dalam ekosistem digital.
Menuju Ketahanan Digital Berkelanjutan
Ajakan Wamenkomdigi kepada pegiat internet komunitas mencerminkan kesadaran bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Perubahan iklim, bencana alam, dan dinamika sosial menuntut sistem komunikasi yang adaptif dan resilien. Ketahanan digital tidak hanya soal teknologi canggih, tetapi juga kesiapan manusia dalam memanfaatkannya secara bijak.
Dengan memperkuat literasi, mendorong inovasi lokal, dan membangun kolaborasi, internet komunitas dapat menjadi garda depan dalam menjaga konektivitas di situasi darurat. Upaya ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan, mengurangi dampak bencana, serta memastikan masyarakat tetap terhubung dengan dunia luar ketika kondisi paling sulit sekalipun.
Melalui pendekatan kolaboratif dan edukatif, transformasi digital Indonesia dapat bergerak menuju arah yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan—di mana teknologi benar-benar hadir untuk melindungi dan memberdayakan seluruh warga.

Cek Juga Artikel Dari Platform beritabumi.web.id
