Gelombang protes anti-pemerintah kembali mengguncang Iran dan menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Sedikitnya 109 anggota aparat keamanan dilaporkan tewas dalam kerusuhan yang berlangsung di sejumlah wilayah negara tersebut dalam beberapa hari terakhir. Angka ini menandai salah satu eskalasi paling mematikan dalam rangkaian demonstrasi publik di Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Informasi tersebut disampaikan oleh otoritas setempat dan dikutip berbagai media internasional. Namun hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi terkait jumlah korban dari kalangan demonstran sipil. Ketertutupan informasi ini menambah sorotan global terhadap situasi hak asasi manusia dan stabilitas politik di negara tersebut.
Akar Protes: Krisis Ekonomi dan Nilai Tukar Rial
Aksi protes bermula pada 28 Desember di kawasan Pasar Raya Teheran, pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan rakyat. Pemicu utamanya adalah anjloknya nilai tukar rial Iran, mata uang nasional yang terus melemah terhadap dolar AS dan mata uang asing lainnya.
Kondisi ekonomi yang memburuk telah lama menjadi keluhan masyarakat. Lonjakan harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan pekerjaan, serta menurunnya daya beli membuat keresahan publik mencapai titik kritis. Demonstrasi yang awalnya bersifat lokal kemudian menyebar cepat ke berbagai kota besar dan wilayah lain di Iran.
Para demonstran menyuarakan kemarahan terhadap kebijakan ekonomi pemerintah yang dinilai gagal melindungi rakyat dari tekanan inflasi dan sanksi internasional. Dalam banyak aksi, tuntutan ekonomi berkembang menjadi kritik politik yang lebih luas terhadap kepemimpinan nasional.
Bentrokan dan Korban Jiwa
Ketika aksi massa semakin meluas, aparat keamanan dikerahkan untuk membubarkan demonstrasi. Bentrokan antara demonstran dan pasukan keamanan pun tak terelakkan. Laporan menyebutkan bahwa dalam beberapa hari kerusuhan, lebih dari 100 aparat keamanan tewas, menjadikan situasi semakin genting.
Kelompok pemantau hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat memperkirakan total korban jiwa—baik dari aparat maupun demonstran—mencapai 116 orang, sementara lebih dari 2.600 orang ditahan selama gelombang protes berlangsung.
Seorang dokter di Teheran, yang berbicara dengan syarat anonim, mengungkapkan bahwa sedikitnya enam rumah sakit di ibu kota mencatat 217 kematian demonstran, sebagian besar akibat luka tembak peluru tajam. Pernyataan ini belum dikonfirmasi secara independen, namun memperkuat dugaan penggunaan kekuatan berlebihan dalam penanganan aksi.
Minimnya Data Resmi dan Sorotan Internasional
Hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan rincian resmi terkait jumlah korban sipil. Minimnya transparansi ini menuai kritik dari komunitas internasional dan organisasi HAM, yang menuntut penyelidikan independen atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
Sejumlah analis menilai ketertutupan informasi merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk meredam tekanan domestik dan internasional. Namun di era digital, laporan saksi mata, rekaman video, dan data dari lembaga independen terus mengalir ke publik global.
Respons Amerika Serikat dan Ketegangan Global
Di tengah situasi yang memanas, perhatian dunia tertuju pada sikap Amerika Serikat. Presiden Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi terhadap Iran jika pemerintah Teheran bertindak lebih keras terhadap demonstran.
Laporan The New York Times menyebutkan bahwa Trump telah menerima paparan sejumlah skenario, termasuk kemungkinan serangan terhadap target non-militer di Teheran. Beberapa opsi juga mencakup serangan terhadap aparat keamanan Iran yang terlibat langsung dalam penanganan aksi protes.
Meski demikian, para pejabat AS menyadari bahwa langkah tersebut berisiko memicu eskalasi besar di kawasan Timur Tengah. Serangan terhadap Iran dapat berujung pada aksi balasan terhadap personel militer dan diplomat Amerika Serikat yang berada di wilayah tersebut.
Risiko Eskalasi Regional
Iran merupakan aktor kunci di Timur Tengah, dengan pengaruh politik dan militer yang luas. Setiap intervensi eksternal berpotensi memicu konflik regional yang lebih besar, melibatkan sekutu-sekutu Iran maupun kepentingan Barat di kawasan tersebut.
Para pengamat internasional menilai bahwa situasi Iran saat ini berada di persimpangan kritis. Di satu sisi, tekanan ekonomi dan ketidakpuasan publik terus meningkat. Di sisi lain, respons keras aparat keamanan justru berpotensi memperluas perlawanan rakyat.
Dampak Sosial dan Psikologis di Dalam Negeri
Di dalam negeri, gelombang kekerasan meninggalkan dampak sosial yang mendalam. Keluarga korban—baik dari kalangan demonstran maupun aparat—menghadapi trauma berkepanjangan. Aktivitas ekonomi di sejumlah kota lumpuh, sekolah dan pasar terpaksa tutup, serta rasa aman masyarakat menurun drastis.
Banyak warga Iran mengaku hidup dalam ketidakpastian, terjepit antara kebutuhan ekonomi yang mendesak dan ketakutan akan represi. Media sosial dipenuhi cerita tentang penangkapan mendadak, hilangnya anggota keluarga, hingga pembatasan akses informasi.
Masa Depan Protes dan Stabilitas Iran
Belum jelas bagaimana gelombang protes ini akan berakhir. Pemerintah Iran menghadapi pilihan sulit: melanjutkan pendekatan represif dengan risiko eskalasi lebih besar, atau membuka ruang dialog dan reformasi ekonomi untuk meredakan ketegangan.
Sejumlah analis menilai bahwa tanpa perbaikan ekonomi nyata, potensi protes lanjutan tetap tinggi. Anjloknya nilai rial, tekanan sanksi internasional, dan ketimpangan sosial menjadi kombinasi berbahaya bagi stabilitas jangka panjang Iran.
Penutup
Kematian lebih dari 100 aparat keamanan dalam protes anti-pemerintah menandai babak kelam dalam sejarah sosial-politik Iran. Di tengah krisis ekonomi dan tekanan global, negara tersebut kini berada dalam sorotan tajam dunia internasional.
Situasi ini tidak hanya menjadi ujian bagi pemerintah Iran, tetapi juga bagi komunitas global dalam menyeimbangkan prinsip hak asasi manusia, stabilitas regional, dan kepentingan geopolitik. Dunia kini menanti, apakah Iran akan memilih jalan dialog dan reformasi, atau justru terperosok lebih jauh ke dalam spiral kekerasan dan ketegangan.
Baca Juga : Jakarta Nihil Super Flu H3N2, Pramono Imbau Tetap Waspada
Cek Juga Artikel Dari Platform : festajunina

