koronovirus.site Penanganan bencana banjir di Sumatera Utara tak hanya berfokus pada evakuasi dan bantuan logistik. Pemerintah juga menaruh perhatian besar terhadap analisis penyebab kerusakan lingkungan yang memicu bencana. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol, turun langsung meninjau lokasi terdampak di Garoga, Kabupaten Tapanuli Utara.
Tujuannya jelas: memastikan faktor pemicu banjir dapat diidentifikasi dengan baik, sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan untuk menghindari kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Sungai Dipenuhi Material Kayu
Dalam peninjauan tersebut, Hanif menemukan kondisi aliran Sungai Garoga dipenuhi potongan kayu dan material gelondongan berukuran besar. Temuan ini langsung menjadi perhatian karena jumlahnya tidak wajar untuk sebuah peristiwa alam biasa.
Kayu-kayu tersebut tampak terbawa arus dari hulu dan menumpuk di beberapa titik. Akumulasi material ini mempersempit aliran sungai, meningkatkan tinggi muka air, dan memperparah dampak banjir ke permukiman warga. Bahkan sejumlah batang kayu berukuran besar terlihat tersangkut pada jembatan dan turap sungai.
Warga yang ditemui menyampaikan bahwa setiap kali arus meningkat, kayu akan mengalir mengikuti alur sungai dan menghantam bangunan, sehingga menambah bahaya bagi mereka yang bermukim di bantaran sungai.
Dugaan Aktivitas Manusia Ikut Memicu
Menurut Hanif, sebagian kayu terlihat berasal dari pohon tumbang alami, akibat curah hujan tinggi dan kondisi tanah yang labil. Namun temuan lain terlihat berbeda: terdapat kayu yang sudah dipotong rapi dan menyerupai bentuk hasil tebangan.
Indikasi tersebut mengarah pada dugaan adanya aktivitas pemanfaatan kayu yang tidak terkontrol di kawasan hulu. Jika aktivitas penebangan berada di wilayah yang memiliki fungsi lindung, maka dampaknya langsung terasa pada kemampuan alam menahan air dan mencegah longsor.
Investigasi lebih lanjut akan dilakukan untuk menentukan apakah material kayu berasal dari:
- praktik pembalakan liar (illegal logging)
- pembersihan lahan tanpa standar lingkungan
- aktivitas industri yang membuang sisa kayu ke sungai
Apapun penyebabnya, masuknya kayu ke dalam sungai membuktikan bahwa ekosistem hulu sedang berada dalam tekanan.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai Tingkatkan Risiko Banjir
Bencana di kawasan Garoga merupakan contoh nyata bagaimana kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat memperparah dampak banjir. Ketika hulu sungai kehilangan vegetasi dan akar pepohonan, air hujan akan langsung mengalir ke sungai tanpa sempat meresap ke tanah.
Akibatnya:
- debit sungai meningkat drastis dalam waktu singkat
- potensi longsor pada lereng curam semakin tinggi
- material kayu dan tanah terbawa arus menuju permukiman
Kerusakan lingkungan di satu titik dapat memberikan dampak luas hingga hilir.
Hanif menegaskan bahwa penanganan bencana harus dibarengi mitigasi jangka panjang berbasis lingkungan.
Pemerintah Fokus Pada Penegakan Aturan
Dalam dialog bersama warga, Menteri Lingkungan Hidup menyampaikan bahwa pemerintah tidak akan menutup mata terhadap dugaan pelanggaran lingkungan di hulu sungai. Ia menekankan perlunya penegakan hukum yang konsisten, terutama jika terbukti bahwa ada pihak yang mengeksploitasi hutan tanpa izin.
Penertiban harus dilakukan, bukan hanya pada pelaku yang memanfaatkan kayu secara ilegal, tetapi juga pada praktik tata kelola lahan yang berpotensi merusak fungsi lingkungan hidup.
Koordinasi lintas lembaga dipastikan akan diperkuat untuk mengatasi masalah ini secara komprehensif.
Keterlibatan Masyarakat Jadi Kunci
Hanif mengapresiasi warga Garoga yang aktif menyuarakan kondisi lingkungannya. Informasi dari masyarakat menjadi salah satu sumber data yang sangat berharga dalam verifikasi lapangan. Ia mendorong agar masyarakat terus terlibat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Pelaporan dini terhadap aktivitas mencurigakan di kawasan hutan sangat membantu mencegah kerusakan semakin parah. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan warga yang mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Rehabilitasi Lingkungan untuk Pemulihan Berkelanjutan
Pemulihan pascabencana harus melibatkan program rehabilitasi dan perbaikan kawasan hulu sungai. Reboisasi, pemulihan daerah resapan air, serta penataan ulang sempadan sungai menjadi prioritas untuk mengembalikan fungsi alami ekosistem.
Upaya ini akan memberikan dampak jangka panjang, antara lain:
- menekan risiko banjir di musim hujan
- melindungi tanah dari erosi
- menjaga kelangsungan sumber daya air
- melindungi pemukiman dan lahan produktif masyarakat
Dengan lingkungan yang sehat, ketahanan bencana masyarakat juga meningkat.
Penutup: Banjir Bukan Takdir yang Tak Bisa Dicegah
Temuan kayu gelondongan di Sungai Garoga menjadi peringatan bahwa kerusakan alam di hulu tidak bisa disepelekan. Bencana banjir dan longsor adalah hasil dari kombinasi faktor alam dan ulah manusia.
Pemerintah menegaskan akan memastikan setiap penyebab bencana ditindaklanjuti sesuai hukum. Ke depan, pengelolaan lingkungan harus dilakukan lebih hati-hati, melibatkan masyarakat, dan mengedepankan keberlanjutan.
Melalui sinergi dan pengawasan ketat, wilayah Sumatera Utara diharapkan mampu bangkit dari bencana, sekaligus membangun sistem perlindungan lingkungan yang lebih kuat untuk masa depan.

Cek Juga Artikel Dari Platform mabar.online
