Gelombang demonstrasi di Iran yang telah berlangsung lebih dari dua pekan kembali menyingkap dinamika lama yang belum pernah benar-benar padam. Di tengah teriakan “kematian untuk diktator” dan “kematian untuk Khamenei”, satu slogan lain terdengar semakin sering digaungkan oleh para pengunjuk rasa: “Pahlavi akan kembali.” Seruan ini merujuk pada Reza Pahlavi, tokoh oposisi yang hidup di pengasingan dan merupakan putra mahkota terakhir Iran.
Aksi protes ini bermula dari keresahan ekonomi. Para pedagang turun ke jalan memprotes merosotnya nilai mata uang rial yang terus tergerus inflasi dan sanksi internasional. Namun, seperti yang kerap terjadi dalam sejarah Iran modern, isu ekonomi dengan cepat berkelindan dengan kemarahan politik yang lebih luas. Demonstrasi berubah menjadi bentrokan, menelan ratusan korban jiwa dan ribuan penahanan, menurut laporan organisasi hak asasi manusia internasional.
Di tengah kekacauan tersebut, nama Reza Pahlavi kembali muncul sebagai simbol alternatif kepemimpinan. Ia bukan tokoh baru, tetapi kemunculannya yang berulang dalam setiap gelombang protes besar menunjukkan bahwa bayang-bayang masa lalu Iran masih menjadi referensi penting bagi sebagian masyarakat.
Putra Mahkota dari Dinasti yang Tumbang
Reza Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 sebagai putra dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir Iran yang digulingkan Revolusi Islam 1979. Sejak kecil, Reza dipersiapkan sebagai penerus takhta. Ia tumbuh dalam lingkungan istana dengan simbol-simbol monarki yang kuat, tampil dalam berbagai upacara kenegaraan, dan diperkenalkan kepada publik sebagai calon pemimpin masa depan.
Namun, kemewahan monarki Pahlavi berdiri di atas fondasi yang rapuh. Modernisasi ekonomi berbasis minyak, kesenjangan sosial yang melebar, inflasi tinggi, serta represi politik melalui aparat keamanan negara menumbuhkan ketidakpuasan luas. Revolusi Islam yang dipimpin ulama akhirnya menggulingkan monarki dan memaksa keluarga Pahlavi hidup di pengasingan.
Ketika revolusi berkecamuk, Reza Pahlavi masih remaja. Ia meninggalkan Iran dan kemudian menetap di Amerika Serikat. Jarak geografis dan waktu yang panjang menjadikannya figur yang dikenal lebih lewat simbol dan narasi ketimbang pengalaman langsung masyarakat Iran hari ini.
Hidup di Pengasingan dan Jalan Politik
Di Amerika Serikat, Reza Pahlavi menempuh pelatihan sebagai pilot tempur dan sempat mengungkapkan keinginannya untuk bergabung dalam perang Iran–Irak pada 1980-an. Tawaran itu ditolak. Ia lalu beralih ke jalur akademik, mempelajari ilmu politik di University of Southern California.
Setelah wafatnya Mohammad Reza Pahlavi, para loyalis monarki di pengasingan mendeklarasikan Reza sebagai shah pada 1980, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-20. Namun, klaim tersebut tidak pernah memiliki kekuatan politik nyata di dalam Iran. Sejak saat itu, Reza Pahlavi lebih banyak memosisikan diri sebagai aktivis oposisi, bukan raja yang menuntut takhta.
Dalam berbagai pernyataan publik, ia menyerukan perubahan damai, referendum nasional, serta transisi menuju sistem pemerintahan yang menghormati hak asasi manusia. Ia kerap menegaskan bahwa dirinya tidak memaksakan monarki, melainkan ingin rakyat Iran menentukan sendiri bentuk negara mereka.
Seruan dari Luar Negeri
Selama demonstrasi terbaru, Reza Pahlavi secara terbuka menyerukan agar rakyat Iran terus turun ke jalan. Dalam salah satu pernyataannya, ia bahkan mengatakan siap kembali ke Iran untuk menyaksikan “kemenangan revolusi nasional”. Ucapan ini memicu reaksi beragam—dari harapan hingga skeptisisme.
Bagi pendukungnya, Reza Pahlavi dipandang sebagai simbol Iran sebelum Republik Islam, sebuah era yang dikenang sebagian kalangan sebagai masa stabilitas dan keterbukaan relatif terhadap dunia Barat. Bagi pengkritiknya, ia hanyalah figur nostalgia yang jauh dari realitas kehidupan Iran modern.
Seberapa Populer Reza Pahlavi di Dalam Negeri?
Mengukur popularitas Reza Pahlavi di Iran bukan perkara mudah. Ia telah hidup di luar negeri hampir lima dekade, sementara generasi muda Iran lahir dan tumbuh sepenuhnya di bawah Republik Islam. Namun, setiap kali protes besar terjadi—2009, 2022 pasca kematian Mahsa Amini, hingga kini—namanya selalu muncul kembali.
Video-video di media sosial memperlihatkan para demonstran membawa foto dirinya atau meneriakkan slogan “hidup sang shah”. Di diaspora Iran, khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, Reza Pahlavi kerap dijadikan simbol persatuan oposisi. Media pemerintah Iran, sebaliknya, menggambarkannya sebagai elit yang korup, tidak membumi, dan bersekutu dengan kepentingan asing.
Survei GAMAAN pada Februari 2022 memberikan gambaran yang lebih bernuansa. Dari lebih 16 ribu responden di dalam Iran, Reza Pahlavi muncul sebagai tokoh sipil dan politik paling populer dengan dukungan sekitar 39 persen. Namun, hanya 19 persen responden yang mendukung monarki konstitusional sebagai bentuk pemerintahan. Lebih banyak yang memilih republik sekuler atau sistem lain yang tidak berbasis keturunan.
Data ini menunjukkan paradoks penting: Reza Pahlavi populer sebagai figur oposisi, tetapi popularitas personal tersebut tidak otomatis berarti dukungan terhadap kembalinya monarki.
Antara Simbol dan Masa Depan
Bagi banyak pengunjuk rasa, Reza Pahlavi mungkin lebih berfungsi sebagai simbol perlawanan daripada calon pemimpin konkret. Seruan “Pahlavi akan kembali” dapat dibaca sebagai ekspresi penolakan terhadap kepemimpinan saat ini, khususnya terhadap Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, ketimbang dukungan penuh pada restorasi monarki.
Nostalgia terhadap masa lalu sering muncul dalam situasi krisis, tetapi nostalgia tidak selalu berujung pada pilihan politik yang sama. Banyak warga Iran merindukan stabilitas, kebebasan sosial, dan kesejahteraan ekonomi, tanpa harus kembali ke sistem kerajaan.
Posisi Reza Pahlavi dalam Krisis Iran
Dalam konteks demonstrasi yang terus berlangsung, Reza Pahlavi berada di persimpangan sulit. Ia memiliki pengaruh simbolik yang nyata, terutama di kalangan diaspora dan sebagian demonstran di dalam negeri. Namun, masa depan Iran tampaknya akan ditentukan oleh kekuatan kolektif rakyatnya, bukan oleh satu figur semata.
Apakah Reza Pahlavi akan memainkan peran nyata dalam perubahan politik Iran, atau tetap menjadi simbol perlawanan dari kejauhan, masih menjadi tanda tanya besar. Yang jelas, kemunculan namanya kembali menegaskan satu hal: sejarah Iran belum selesai diperdebatkan, dan bayang-bayang masa lalu masih ikut membentuk arah perjuangan hari ini.
Baca Juga : Polda Metro Bongkar Lab Narkoba di Apartemen Greenbay
Cek Juga Artikel Dari Platform : kalbarnews

